Pola Spasial Bahan Baku Industri Suwar Suwir (Singkong) Di Kabupaten Jember Nur Aliyah (0906635274)

Bahan Baku Utama Suwar Suwir; Singkong

Suwar suwir merupakan yang terbuat dari bahan baku tape singkong yang di tambah dengan gula pasir, hingga 100% juga dengan campuran sirsak. Tape adalah makanan yang berasal dari umbi-umbian (singkong kuning) yang fermentasi selama 4 hari. Dari percampuran komposisinya singkong merupakan bahan utama dalam pembuatan suwar suwir.

Singkong merupakan umbi yang kaya karbohidrat namun miskin protein. Indonesia memiliki tingkat produksi ubi kayu atau singkong Nasional cukup tinggi pada tahun 2010 sebesar 23.093.522 ton atau dengan produktivitas 191,94 Ku/Ha (Badan Pusat Statistik 2010) dan relative tinggi di Kabupaten jember pada beberapa kecamatan, seperti kecamatan Sumberbaru, Sumbersari dan Ledokambo yang detailnya pada tabel 1. Selain dijadikan makanan utama pengganti beras untuk rumah tangga yang memiliki perekonomian menengah kebawah, juga diolah menjadi berbagai makanan yang lebih ekonomis seperti tape, suwar suwir dan prol tape bagi para pengusaha makanan ringan dari tape dan masyarakat menengah keatas sebagai cemilan.

Berdasarkan hasil survey pada pemilik industry kecil Primadona dengan ibu A Holis (76 tahun) mengatakan bahwa 90% dari bahan baku yang digunakan berasal dari kiriman tape bondowoso yang sudah hampir kadaluarsa dan saat pasokan tape dari Bondowoso menipis, industrinya akan mencari di pasar tradisional terdekat untuk mendapatkan tape dan ketika di perkirakan tidak mencukupi barulah membeli singkong dari petani singkong untuk dijadikan tape terlebih dahulu. Namun hal ini jarang dilakukan sebab mengeluarkan uang lebih untuk proses menjadi tape dan waktu lebih menunggu menjadi tape, sehingga tidak efisien. Dahulu (tahun 80-90an) masih membuat tape sendiri, namun karena keterbatasan tenaga kerja hingga tidak dapat untuk memenuhi permintaan setiap harinya, lagipula tape Bondowoso sangat manis hingga cita rasa suwar suwirnya juga menjadi lebih tinggi dan enak. Meskipun sudah mendekati kadaluarsa. Pembelian tape mendekati tanggal kadaluarsa di pilih untuk mengurangi sisa tape yang tidak terjual di Bondowoso dan semakin lama tape akan semakin manis sehingga bisa meminimalisir penggunaan gula.

Berbeda dengan Industri Tape Manis 96, Pak Budi selaku pemilik industri (43 tahun) mengatakan bahwa semua makanan olahan tape miliknya murni di buat dari tape buatannya sendiri. Dan ketika pemasok singkong jumlahnya berkurang dari biasanya, maka barulah industry membeli tape dari pasar, sebab pemilik berpendapat dengan membuat tape sendiri akan membuat rasa suwar suwir yang dihasilkan akan berbeda dengan yang lainnya, yang memasok bahan bakunya dari tape Bondowoso atau pasar terdekat. Mengenai penyuplai singkong, setiap harinya industry Tape Manis 96 mengolah 2 kuintal singkong. Singkong di dapatkan dari kecamatan Arjasa dan tidak hanya pada satu pemilik kebun melainkan banyak. Cara industri ini mendapatkannya pun melalui tengkulak sehingga sudah terima jadi tanpa sulit masalah administrasi, distribusi ataupun mencari pemilik kebun singkong ke desa-desa.  Dengan ongkos kirim hanya sebesar Rp 10.000,00 setiap pengirimannya. Namun saati ini mencari pemilik kebun singkong yang mau menjual hasil panennya lumayan sulit, karena sebagian bersifat subsisten sebagai makanan pokok dan sebagian lagi subsisten sebagai makanan pendamping dan tidak banyak petani singkong telah beralih menjadi petani tembakau maupun kakao.

Kedua pernyataan suplai bahan baku untuk industry kecil suwar suwir diperkuat dengan singkong di kabupaten jember mengalami penurunan produktivitas dari tahun 2009 menjadi 160,71 ku/ha pada tabel 1. Hal ini dikarenakan menurut beberapa penduduk di kota seperti di kecamatan kaliwates olen bapak Mahfud (60tahun) seorang pedagang yang sebelumnya bertani dan masih memiliki kebun singkong. Singkonh tidak  memiliki nilai ekonomis yang tinggi dibanding dengan mengganti kebun singkong menjadi tanaman tembakau, jagung, tebu atau tanaman coklat yang sedang mengalami peningkatan produktivitasnya sejak ada balai penelitian untuk kopi dan kakao. Mayoritas dari penduduk kota Jember mengalihkan kebunnya menjadi kebun jagung meskipun ada yang masih memiliki kebun singkong namun sifat pemakaiannya adalah subsisten (dimanfaatkan sendiri tidak untuk dijual). Pemilik kebun singkong sebelumnya memang membuat suwar suwir namun karena cita rasa yang membosankan hingga penghasilan yang di dapat tidak maksimal, dan lahan sudah tidak seluas dahulu (tahun 90-an) maka jika menanam singkong untuk komersil ditengah kota tidaklah ekonomis dan pemilik industri suwar suwir saat ini lebih memilih langsung membeli tape bondowoso, karena memotong biaya proses pembuatan singkong menjadi tape untuk pembumbuatan suwar suwir.

Sedangkan untuk di kecamatan Arjasa yang merupakan bukan wilayah kota Jember, kebun singkong banyak ditemukan. Namun menurut penduduk yang memiliki kebun singkong seperti Susi (21 tahun), Subahri (70 tahun) dan Susan ( 31 tahun) mereka memiliki kebun singkong hanya untuk di konsumsi sendiri (subsisten) meskipun terkadang dijual kepada tetangga (komersil) namun ketiganya tidak mengetahui suwar suwir yang menjadi buah tangan khas jember. Susan mengatakan meskipun terkadang menjual hasil tanam ke tetangganya, dirinya hanya mengetahui sebatas untuk dijadikan singkong rebus meskipun pernah satu kali singkongnya dijual kepada tetangga untuk dijual kembali namun tidak diketahui peruntukkannya. Sedangkan pemilik lain hanya di konsumsi sendiri. Pernyataan ibu Susan (31 tahun) memperkuat yang dinyatakan bapak Budi (pemilik Tape Manis 96) bahwa sebenarnya masih ada industry suwar suwir yang menggunakan singkong dari Jember.

Menurut informan bapak Budi (54 tahun) penjaga situs megalithikum kencong di desa Kamal, kecamatan arjasa bahwa yang memiliki kebun singkong yang luas terdapat di kecamatan Pakusari dan kecamatan Mayang. Bila melihat tabel 1, maka produktivitas kedua kecamatan tersebut tidak terlalu banyak namun menurut informan pada kecamatan tersebut kebun singkong seakan terpusat lokasi yang memiliki kebun singkong, dan di arjasa memang ada perkebunan singkong yang sangat luas di puncak bukit seperti tegalan hingga berhektare-hektare namun hasilnya diperuntukkan untuk pembuatan tepung tapioka. Setiap hari truk pengangkut singkong keluar melalu jalan di desa Kamal, Arjasa.

Beberapa kecamatan yang memiliki produktivitas singkong yang tinggi menurut bapak Agus selaku kesertariatan Dinas Perkebunan Kabupaten Jember, sebagian besar perkebunan singkong memang mengalami penurunan baik dari segi produktivitas maupun luas areal lahannya karena peralihan fungsi menjadi perkebunan kakao yang sekarang mengurangi areal perkebunan seperti di kecamatan Silo, lihat tabel 2. Perkebunan singkong di kabupaten jember mayoritas di gunakan untuk pembuatan tepung tapioka. Perusahaan yang mengolah singkong tersebut pun bukan di Kabupaten Jember melainkan di Ponorogo seperti PT. Mitra yang mendapat suplai dari kecamatan Arjasa.

Singkong di kabupaten jember sebagian merupakan singkong berdaging putih, sehingga tidak memiliki kualitas yang baik untuk di jadikan sebagai tape sebaliknya untuk pembuatan tepung tapioka singkong jember kualitasnya bagus.

Tabel 1 Luas Panen, Rata-rata Produksi, dan Total Produksi Ubi Kayu Menurut Kecamatan, 2010

Tabel 2 Luas Panen , Rata-rata Produksi, dan Total Produksi Kakao Menurut Kecamatan,2010

Peta 1 Sebaran Produktivitas Ubi Kaui Kecamatan tahun 2010, Kabupaten Jember

Industri Suwar Suwir

Industri suwar-suwir jember banyak tersebar atau bisa dibilang terpusat di pusat kota, seperti kecamatan Kaliwates, Sumbersari dan Patrang. Industri suwar-suwir yang ada di Jember bisa dikategorikan sebagai industry kecil atau rumah tangga, karena merupakan industry makanan kecil dimana jumlah pegawai tidak lebih dari 20 orang meskipun ada industry yang memiliki pegawai lebih dari 20 orang seperti Primadona sebanyak 35 tenaga kerja. Industri suwar-suwir rata-rata mengolah 500 kilogram hingga 2 kwintal tape untuk dijadikan suwar-suwir. Suwar-suwir dapat bertahan sekitar 4 hingga 9 bulan tergantung dari campuran bahan baku terutama gula yang digunakan sebagai bahan pengawet alami. Suwar-suwir di kemas menggunakan kertas minyak yang di kemas manual dengan tangan namun saat ini bentuk kemasan dari suwar-suwir sudah lebih modern menggunakan plastik dengan bantuan mesin yang kemudian dimasukkan kembali ke plastik dengan ukuran 250 gr, 500 gr dan 1 kg. Harga suwar-suwir perkemasan berkisar Rp 10.000,00 hingga Rp 20.000,00. Adapun industri suwar-suwir yang terdapat di Kabupaten Jember seperti Primadona, Tape Manis 96, U.D. Arum Sari, U.D. Andhika, Vina Madu dan U.D. Rama.

Gambar 2 Lokasi Industri Suwar Suwir (sumber: maps.google.com tahun 2012)

Lokasi industri suwar suwir terpusat di karenakan pertimbangan dari tenaga kerja, aglomerasi dan tentunya biaya transportasi. Dimana keuntungan maksimum juga didapatkan jika total tenaga kerja dan biaya transportasi minimum. Seperti yang diungkapkan oleh Weber mengenai segitiga lokasi yang memiliki hubungan antara biaya trasnportasi dengan bahan baku hingga menemukan lokasi yang optimum untuk industry dekat dengan bahan baku dan pasar. Lokasi industry suwar suwir lebih menekankan dengan adanya pasar, dan lagi pula dekat dengan sumber bahan baku bagi sebagian industry suwar suwir yang mendapat suplai dari pasar tradisional. Meskipun sebagian industri tidak mendekati pasar maupun bahan baku seperti lokasi U.D. Arum Sari yang berada lebih kedalam meskipun masih di pusat kota namun akses dari jalan utama memiliki jarak yang lumayan. Bisa dikatakan industry kecil U.D. Arum Sari memilih lokasi berdasarkan pertimbangan pribadi seperti yang di ungkapkan oleh Melvin Greenhut.

Nilai Ekonomi Singkong Terhadap Industri Suwar Suwir di Kabupaten Jember

Singkong di Kabupaten Jember mengalami aliran keluar (export) untuk memenuhi kebutuhan pasokan sebagai bahan baku tepung tapioka namun dalam memenuhi kebutuhan singkong sebagai bahan baku industry suwar suwir harus mengambil dari luar Kabupaten Jember (import). Singkong tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi di Jember mengingat industry suwar suwir merupakan panganan khas Kabupaten Jember atau sebagai buah tangan. Keadaan seperti inilah yang dikatakan sebagai kebocoran ekonomi dari sektor pertanian. Karena bahan baku suwar suwir banyak terdapat di Kabupaten Jember namun para pengusaha mengimport kebutuhan akan sumber bahan baku dari kabupaten lainnya seperti kabupaten Bondowoso. Sehingga singkong di dalam Kabupaten jember tidak memiliki nilai ekonomis yang tinggi meskipun makanan khasnya berasal dari bahan baku singkong dan banyaknya produksi singkong di kabupaten jember membuat hasil panen di alirkan ke wilayah lain sebagai bahan baku tepung tapioka. Seharusnya singkong memiliki nilai lebih mungkin akan membuat pendapatan dari sektor pertanian ubi kayu atau singkong di alirkan de dalam kabupaten Jember terlebih dahulu, sehingga tidak ada biaya untuk export dan import yang justru membuat defisit pendapatan pemerintah dari sektor pertanian terutama dari tanaman singkong.

Kesimpulan

Persebaran singkong di Kabupaten Jember tersebar merata disetiap Kecamatan. Namun perkebunan singkong yang bersifat komersil dan subsisten berimbang hal ini karena singkong sebagai bahan baku utama industri suwar suwir yang menjadi icon buah tangan jember tidak memiliki nilai yang lebih tinggi di banding dengan singkong bondowoso karena singkong jember merupakan singkong dengan daging putih yang tidak menghasilkan tape yang enak untuk suwar suwir dan sebaliknya singkong jember justru di ekspor untuk dijadikan tepung tapioka. Selain itu juga menyebabkan petani singkong mengalihkan kebunnya untuk tanaman yang memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi. Melihat pola spasial distribusi singkong Jember menguatkan adanya kebocoran ekonomi pada bidang pertanian.

Keterkaitan jenis singkong yang berbeda dan keberadaan pemasok bahan baku membuat lokasi industri suwar suwir mendekati pasar maupun pasar tradisional untuk suplai seperti Primadona.

                               

Daftar Pustaka

Djojodipuro, Marsudi. 1992. Buku. Teori Lokasi. Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas  Ekonomi UI.

Febriyanti, Dita. 2012. Makalah. Implikasi Teori Lokasi Terhadap Penentuan Lokasi Industri di Kompleks SIER Surabaya. edukasi.kompasiana.com

Raditya, Iswara N. Artikel. 16 Februari 2011. Suwar Suwir. http://www.wisatamelayu.com/id/tour/1144-Suwar-Suwir/navcat

repository.upi.edu/…/s_pek_0607190_chapter2.pd…

SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986

Suryanto, DK Asita. Artikel. 21 November 2011. “Suwar-suwir”, Penganan Khas Jember. http://travel.kompas.com/read/2011/11/21/15032317/.Suwar-suwir.Penganan.Khas.Jember

Muhdar. 2012. Perekonomian Nasional dan Internasional Dalam Kerangka Agregat Demand dan Suply: Perspektif Teori. Program Doktor Ekonomi, Universitas Hasanuddin, Makassar.       

http://wwwdesimeriyanti.blogspot.com/ di akses pada 26 mei 2012 pukul 16.23 WIB

http://reginacarsabaginapriani.blogspot.com/2011/12/v-behaviorurldefaultvmlo.html di akses pada 4 Juni 2012 pukul 20.12 WIB

http://dc169.4shared.com/doc/IRrEHLzt/preview.html di akses pada 4 Juni 2012 pukul 20.40 WIB

Data produktivitas ubi kayu nasional Badan Pusat Statisik 2010 https://docs.google.com/viewer?a=v&q=cache:ZSXaa3kFIzQJ:repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/46724/A11ccn_BAB%2520I%2520Pendahuluan.pdf?sequence%3D4+produktivitas+ubi+kayu+nasional&hl=id&gl=id&pid=bl&srcid=ADGEESjBPV3vaJGuoucCcX2GKLwcSGm9ji95hmSSiai1ewYPuP4dtlgeL2noWYN8eki2WjmHXA4t9_jUXNhXC5K0oT7SkquZW7zEqPEZMV1EfDVinTiluVsXg0reQ88uDEJc2zBprWb6&sig=AHIEtbSwTaMVY_semVYcVWzbL70-wFyKbg

 

 

 

Iklan

Posted on September 13, 2012, in Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: